Selasa, 28 Juli 2009

SARASAMUSCAYA "Keagungan Dharma"

Keagungan Dharma

12. Pada hakekatnya, jika artha dan kama dituntut, maka seharusnya dharma hendaknya dilakukan lebih dulu; tak tersangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti; tidak ada artinya, jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma.

13. Bagi sang pandita (orang arif bijaksana) tak lain hanya orang yang bajik yang melaksanakan dharma, dipuji, dan disanjung olehnya, karena ia telah berhasil mencapai kebahagiaan; beliau tidak menyanjung orang yang kaya, dan orang yang selalu berahi cinta wanita; sebaborang itu tidak sungguh berbahagia, karena adanya pikiran angkara dan masih dapat digoda oleh kekayaan dan hawa nafsu itu.

14. Yang disebut dharma, adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga; sebagai halnya perahu, sesungguhnya adalah merupakan alat bagi orang dagang untuk mengarungi lautan.

15. Usaha tekun pada kerja mencari kama, artha dan moksa, dapat terjadi ada kalanya tidak berhasil; akan tetapi usaha tekun pada pelaksanaan dharma, tak tersangsikan lagi, pasti berhasil sekalipun baru hanya dalam angan-angan saja.

16. Seperti perilaku matahari yang terbit melenyapkan gelapnya dunia, demikianlah orang yang melakukan dharma, adalah memusnahkan segala macam dosa.

17. Segalaorang, baik golongan rendah, menengah atau tinggi, selama kerja baik menjadi kesenangan hatinya, niscaya tercapailah segala yang diusahakan memperolehnya.

18. Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya; lagipula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu; tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa triloka atau jagad tiga itu.

19. Adalah orang yang tidak bimbang, bahkan budindya tetap teguh untuk mengikuti jalan pelaksanaan dharma; orang itulah sangat bahagia, kata orang yang berilmu, tidak akan menyebabkan kaum kerabat dan handai taulannya bersedih hati, meski ia sampai berkelana meminta-minta sedekah untuk menyambung hidupnya.

20. Maka pada hakekatnya, seperti air yang menggenangi tebu, bukan hanya tebu itu saja yang mendapat air melainkan turut sampai kepada rumput, tanaman menjalar dan lain-lain sejenisnya, serta segala tanaman-tanaman di dekat tanaman tebu itupun mendapat air pula; demikianlah orang yang melaksanakan dharma; diperolehnya pula serta artha, kama dan yaca (kemegahan).

21. Maka orang yang melakukan pebuatan baik, kelahirannya dari sorga kelak menjadi orang yang rupawan, gunawan, muliawan, hartawan, dan bekekuasaan; buah hasil perbuatan yang baik, didapat olehnya.

22. Lagi pula meski di semak-semak, di hutan, di jurang, di tempat-tempat yang berbahaya, disegala tempat yang dapat menimbulkan kesusahan, baik di dalam peperangan sekalipun tidak akan timbul bahaya manimpa orang yang senantiasa melaksanakan dharma, karena perbuatan baiknya itulah yang melindungi.

23. Dan lagi, striratna yaitu wanita cantik, yang tampan tampaknya mengenakan pakaian yang bagaimanapun, dapat membuat senangnya kaum pria; rumah bagus, terutama rumah besar betingkat yang beratap datar (tempat mencari angin); yang penuh dengan pelbagai kenikmatan; seperti bahan-bahan pakaian, makanan dan sejenisnya, yang tak ternilai harganya; kesemuanya itu dapta dimiliki oleh orang yang berbuat kebajikan.

24. Sebab kekuatan, perbekalan dan pengangkutan, akan mendatangkan dirinta sendiri kepada orang yang berbuat jasa atau kebaktia, sebagai kebiasaan katak yang pergi mendekatkan dirinya kepada sumur, dan sebagai burung yang mendatangkan dirinya sendiri ke telaga.

25. Oleh karena itu caranya orang yang sadar, tenang sebagai tidak akan tertimpa bahaya maut, misalnya pada waktu ia berusaha manuntut ilmu pengetahuan dan mencari harga benda; akan tetapi pada waktu ia mengejar dharma, sebagai tampak seakan-akan maut itu merenggut kepalanya; karenanya, meski dengan terengah-engah dikejarnya saja cita0citanya itu.

26. Jika orang telah mengetahui, bahwa sang maut senantiasa mengintai dan menunggangi kepalanya, tentunya orang tidak akan rakus pada makanan, apalagi untuk melakukan perbuatan yang menyalahi dharma.

27. Karenanya perilaku seseornag; hendaklah digunakan sebaik-baiknya masa muda, selagi badan sedang kuatnya, hendaklah dipergunakan untuk usaha menuntut dharma, artha dan ilmu pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan orang tua dengan kekuatan anak muda; contohnya ialah seperti ilalang yang telah tua itu menjadi rebah, dan ujungnya itu tidak tajam lagi.

28. Dan lagi, akan upacama itu, maka masa muda sesungguhnya disebut upacama, karena menurut kodratnya, jika upacama (masa remaja) itu kedatangan masa tua, ditandai dengan berkurangnya zat-zat di dalam tubuh, yaitu mengendornya urat-urat pernapasan (hawa atau angin), empedu dan lendir. Catatan : Di dalam tubuh manusia ada tiga zat cair, yaitu wata (hawa/angin), pitta (empedu) dan clesma atau kepha (lendir), yang melahirkan peri keadaan manusia, misalnya :sesak napas, marah-marah atau mual, tenang.

29. Begini peri keadaan manusia/makhluk hidup, yaitu masa muda, tetap dinantikan oleh masa kanak-kanak; masa muda masa tualah yang dinantikan olehnya; jika masa tua telah tercapai, itu berarti telah berada di pangkuan maut; apakah yang masih dinantikannya; hanya kematian saja; oleh karenanya, hendaklah dipercepat mengusahakan perbuatan yang berdasarkan dharma.

30. Sebab segala macampenyakit itu adalah merupakan pengemudi dari maut (kematian), yang menyebabkan hidup itu menjadi kurang; jika telah berkurang usia hidup, datanglah maut, karena itu jangan alpa; hendaknyalah dipercepat saja berbuat baik, yang akan mengantarkan anda ke alam baka.

31. Karena itu, pergunakanlah sebaik-baiknya kemampuan yang ada sekarang selalu anda masih muda; hendaklah anda lekas-lekas melakukan pekerjaan yang bersandarkan dharma, sebab hidup ini tidak tetap, siapa gerangan akan tahu tentang datangnya maut; siapa gerangan akan tahu tentang datangnya maut; siapa pula akan memberitahukan akan datangnya maut itu.

32. Karena kaum kerabat itu, hanya sampai di tempat pembakaran (kuburan) batasnya mereka itu mengantarkan; adapun yang turut ikut menemani roh di akherat, adalah perbuatannya yang baik, ataupun yang buruk saja; oleh karena itu hendaklah diusahakan berbuat baik, yaitu teman anda yang menjadi pengantar ke akherat kelak.

33. Telah menjadi hukum keluarga : pada waktu anda berpulang, tinggallah badan kasar anda yang tidak berguna, yang akhirnya pasti akan dibuang karena tidak ada bedanya dengan pecahan piring mangkok; itulah yang dihormati oleh kaum kerabat anda sejenak; pada akhirnya pergilah mereka membelakangi (meninggalkannya) karenanya usahakanlah untuk mencapai kebahagiaan dan kebebasan abadi.

34. Hanya dharma dikatakan merupakan kebenaran dan kewibawaan; hanya ketenteraman perasaan hati merupakan ketahanan terhadap panas dan dingin, yang dapat dijadikan obat pelebur dosa dan pemusnahan kadukaan hati; sesungguhnya samyagjana (kebenaran-kesadaran) patut dicamkan, ilmu pengetahuan dan keyakinan anda akan keadaan yang hakiki itu merupakan tujuan utama yang membahagiakan, sedangkan ahimsa : tidak membunuh-bunuh dan tidak kerasukan marah, itu;ah kebahagiaan yang nyata namanya.

35. Sesungguhnya hanya satu saja tujuan agama, mestinya tidak sangsi lagi orang tentang yang disebut kebenaran, yang dapat membawa ke sorga atau moksa, semua menuju kepadanya, akan tetapi masing-masing berbeda-beda caranya, disebabkan oleh kebingungan, sehingga yang tidak benardibenarkan; ada yang menyangka, bahwa di dalam gua yang besarlah tempatnya kebenaran itu.

36. Karenanya, anakda janganlah angkuh terhadap orang tua, melainkan hendaklah selalu bertanya dan meminta diberi ajaran oleh beliau, demikian hendaknya anaknda; sebab yang disebut dharma sama halnya dengan ular yang tidak dapat diketahui dengan pasti jalannya; dapat terjadi dari utara, dapat terjadi dari selatan datang ular itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar